Rabu, 15 Agustus 2018

Polemik Blak-blakan Mahfud MD, Ini Komentar 'Bang Poltak'

Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Ruhut Sitompul, mengatakan sejumlah pimpinan parpol koalisi dan tokoh PBNU khawatir Mahfud MD berpotensi menjadi saingan terberat di Pemilu 2024 jika dipilih sebagai cawapres Jokowi.

Alhasil, penolakan terhadap Mahfud pun mengemuka.


"Rupanya semua [Parpol koalisi] menganggap 2024 dia [Mahfud] jadi saingan terberat kalau dia wapres kan, itu aja," kata dia, saat ditemui di Posko Pemenangan Jokowi-Maruf Amin, Menteng, Jakarta Pusat (15/8).

Baca juga: (Geram Andi Arief Dicecar, Demokrat: Bujuk Pak Prabowo Tendang Kami Keluar)

Ia mencontohkan sejumlah nama penolak Mahfud, yakni Ketua Umum PBNU Said Aqil Sirajd, Ketum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, hingga Ketum MUI Ma'ruf Amin.

Selain itu, beberapa partai politik menyatakan keberatan terhadap pencalonan pakar hukum tata negara itu. Meski begitu, Ruhut enggan merincinya.

"Ya sebenarnya bukan itu aja [Siad Aqil, Ma'ruf, dan Cak Imin yang keberatan], tapi ada beberapa partai," kata dia.

Ruhut lantas bercerita bahwa dirinya dan Mahfud sudah berada suatu lokasi di dekat Restaurat Plataran Menteng untuk menunggu keputusan deklarasi cawapres Jokowi pada Kamis (9/8) lalu.

Akan tetapi, ia mengatakan detik-detik terakhir Mahfud menerima telepon dari seseorang yang menyatakan Jokowi telaj mengubah pilihannya ke Maruf Amin sebagai Cawapresnya

Baca juga: (Farhat Abbas Tuding Mahfud MD Ingin Belokkan NU dan PKB Tidak Solid)

"Waktu itu saya dengan Pak Mahfud [di satu lokasi sebeljm deklarasi], 'Bang aku keluar dulu Bang, ada yang telepon' kata Mahfud tuh. Rupanya dia dapat kabar itu, ya kita mau bilang apa," ungkap Ruhut.

Sebelumnya, Mahfud MD dikabarkan batal menjadi cawapres bagi Jokowi setelah ada perubahan keputusan dari Jokowi pascarapat dengan parpol koalisi.

Ia yang sebelumnya sudah bersiap dengan sejumlah kelengkapan persyaratan pendaftaran capres-cawapres pun terpaksa kembali ke kantornya dan menyaksikan Ma'ruf dipilih sebagai cawapres.


CNN

Geram Andi Arief Dicecar, Demokrat: Bujuk Pak Prabowo Tendang Kami Keluar

Partai Demokrat (PD) membela Andi Arief yang diancam dipolisikan PAN dan PKS. PD buka-bukaan soal manuver Prabowo Subianto yang sempat menyebut nama AHY sebagai salah satu kandidat cawapres.

"Di balik realitas politik, yang di atas kertas tak lagi bisa diubah, sikap Andi Arief yang terang-terangan mewakili sebenar-benarnya suara hati setiap kader Demokrat. Dia tidak sendirian. Dia berkelahi demi kehormatan Partai dan setiap kadernya -- bukan untuk dia pribadi," cuit Wasekjen PD Rachland Nashidik dalam akun twitter @RachlanNashidik yang dikutip, Rabu (15/8/2018).


Rachland kemudian bicara soal dirinya yang selama ini jadi salah satu pengritik terkeras Prabowo. Pada Pemilu 2009, saat Prabowo berduet dengan Megawati, Rachland pernah berseteru dengan kubu eks Danjen Kopassus itu hingga diancam dilaporkan ke polisi.

"Kenapa kini mendukung? Bukan cuma keputusan partai. Saya mau ganti Presiden! Alat yang tersedia cuma Prabowo," ujarnya.

Baca juga: (Farhat Abbas Tuding Mahfud MD Ingin Belokkan NU dan PKB Tidak Solid)

Dia lalu bicara soal sikap PD yang memilih tetap bertahan di koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga. Dia mengatakan partainya tak ingin ingkar janji untuk berjuang memenangkan Prabowo.

"Tapi silakan Gerindra-PKS-PAN, bila tak suka, bujuk lagi Pak Prabowo untuk tendang ke luar Demokrat. Kami dikhianati. Tapi kami tak akan berkhianat. Kenapa? Bukan karena kami malaikat. Tapi karena itu satu-satunya cara untuk membuktikan kami berbeda dari mereka," ulas Rachland.

Rachland kemudian membahas manuver Prabowo saat memilih cawapres. Prabowo, kata Rachland, yang lebih dulu mempertimbangkan AHY sebagai kandidat cawapres, bukan PD yang menawar-nawarkan.

"Prabowo yang datang pada kami, bukan sebaliknya. Prabowo yang menyebut nama AHY, bukan kami. Prabowo yang memberi alasan kenapa AHY, bukan kami. Ketika dia pilih Sandi, kami bertanya: Elektabilitas Sandi berapa? Kenapa Gerindra dengan Gerindra? Saudara mau menang, tidak?" tutur Rachland.

Rachland mengatakan elektabilitas AHY jauh di atas Sandi. Di atas kertas, dia menambahkan, AHY bisa menyumbang elektabilitas Prabowo.

"Begitupun, karena konon Prabowo tak bisa melawan PKS dan PAN, kami tak memaksa. Kami bilang: kalau mau menang, cari Cawapres lain dengan elektabilitas cukup dan diterima semua pihak," ujarnya.

Baca juga: (Ditelepon Mahfud MD Usai Blak-blakan, Rommi: Beliau Minta Mohon Maklum Pernyataannya di ILC)

Rachland buka-bukaan agar publik tahu realitas politik koalisi Prabowo yang sebenarnya. Dia menegaskan kini PD fokus berupaya memenangkan Prabowo-Sandi.

"Sebuah tugas sangat berat, karena syarat-syaratnya tak dipenuhi. Tapi saya akan bicara lagi bila PKS dan PAN kembali menyerang Andi Arief," pungkasnya. Detik

Farhat Abbas Tuding Mahfud MD Ingin Belokkan NU dan PKB Tidak Solid

Juru Bicara pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo serta Ma'ruf Amin Farhat Abbas menganggap pengakuan Mahfud MD soal kegagalan di balik pencalonan cawapres berpotensi memecah belah PKB dan NU.

"Jadi ini saya anggap Pak Mahfud mengarahkan atau membelokkan cerita itu ya agar NU dan PKB tidak solid," kata Farhat Abbas di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (15/8).


Pernyataan Farhat disampaikan menyikapi pernyataan Mahfud mengenai manuver Rais Aam Ma'ruf Amin kepada Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) sehingga dirinya tak jadi cawapres di detik-detik terakhir. Mahfud mengaku tahu hal itu dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Baca juga: (Ditelepon Mahfud MD Usai Blak-blakan, Rommi: Beliau Minta Mohon Maklum Pernyataannya di ILC)

Farhat menegaskan PKB dan PBNU sudah sedari awal mendukung 100 persen pasangan Jokowi dan Maruf Amin.

"Tidak mungkin figur seperti Pak Muhaimin membocorkan atau menuduh NU tidak akan mendukung Pak Jokowi kalau (cawapresnya) Pak Mahfud. Itu tidak mungkin," tutur calon legislatif PKB ini.

Ia berpendapat sewajarnya Cak Imin yang paling marah ketika Jokowi memutuskan memilih yang lain. Sebab, PKB sudah membentuk JOIN, relawan pasangan Jokowi-Cak Imin.

"Harusnya yang paling ribut atau paling marah adalah Pak Muhaimin. Sudah JOIN tapi tidak diberi kesempatan. Tapi Pak Muhaimin berbesar hati mengatakan ini adalah warga PKB dan warga NU," ucapnya.

Baca juga: (Tudingan Mahfud MD, PKB: Sebagian Memang Fakta, Sebagian Tidak Benar)

Farhat mengaku memahami apabila timbul kekecewaan dari Mahfud. Dia berharap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu dapat menerima dukungan seluruh partai koalisi yang diberikan kepada Maruf Amin. (gil)

Ditelepon Mahfud MD Usai Blak-blakan, Rommi: Beliau Minta Mohon Maklum Pernyataannya di ILC

Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) mengungkapkan dirinya ditelepon Mahfud Md setelah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu buka-bukaan di salah satu gelar wicara televisi. Rommy mengatakan Mahfud sebenarnya sudah legawa atas keputusan Joko Widodo (Jokowi) soal cawapres.

"Saya pahami kekecewaan yang disampaikan Pak Mahfud. Pak Mahfud tadi juga kontak saya menyampaikan mohon permakluman kalau tadi malam saya blak-blakan di ILC karena saya udah legawa tapi terus diejek ngomongnya begitu," ujar Rommy di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/8/2018).


Dalam acara Indonesia Lawyers Club, Mahfud sempat menyinggung Rommy soal baju yang disiapkan Mahfud untuk persiapan deklarasi cawapres Jokowi. Pada saat itu, Mahfud mendapat instruksi dari pihak Istana untuk mempersiapkannya.

Baca juga: (Tudingan Mahfud MD, PKB: Sebagian Memang Fakta, Sebagian Tidak Benar)

"Yang mungkin saya agak tersinggung justru pernyataan Ketua Umum PPP. Rommy keluar dari ruangan itu dia bilang, 'Loh, Pak Mahfud itu kan maunya sendiri katanya, bikin baju sendiri, siapa yang suruh,'" ungkap Mahfud mengungkap detik-detik dirinya diminta jadi cawapres Jokowi, dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (15/8) malam.

"Saya agak tersinggung, padahal Rommy justru sehari sebelumnya yang memberi tahu saya (cawapres) sudah final," ungkap Mahfud.

Rommy mengatakan dirinya tidak memiliki niat mengungkapkan hal final itu kepada siapa pun.

Baca juga: (Tanggapi Tudingan Prof Mahfud MD, Begini Reaksi PPP)

"Saya katakan tidak ada niat 'PHP'. Saya luruskan. Saya nggak pernah sekalipun seumur hidup mengatakan final kepada siapa pun. Betul bahwa saya datang ke rumah Pak Mahfud dua minggu sebelumnya, tetapi itu juga untuk menjelaskan saja dan tidak ada istilah saya mengatakan pasti Pak Mahfud. Saya hanya menyatakan kami dari PPP rapat majelis tinggi partai memang menghasilkan keputusan dua skenario," jelas Rommy. Detik

Tudingan Mahfud MD, PKB: Sebagian Memang Fakta, Sebagian Tidak Benar

Mahfud Md buka-bukaan soal cerita di balik kegagalan dirinya menjadi cawapres untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi). PKB menilai pernyataan Mahfud bagian dari emosi semata.

"Saya kira Pak Mahfud baru cerita sebagian dari yang dia ketahui, sebahagian dari yang dia tidak ketahui terutama yang tidak dia ketahui kan dia tidak ceritakan," ujar Ketua DPP PKB Lukman Edy, di Posko Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (15/8/2018).


"Kita hormati apa yang terjadi, ya mungkin Pak Mahfud masih emosi, walaupun dikatakan legowo kan tapi masih nendang sana nendang kemari. Ya jadi, emosi itu masih ada," lanjutnya.

Lukman pun meminta para pihak untuk memaklumi sikap Mahfud tersebut. Ia meyakini dengan berjalannya waktu emosi Mahfud akan meredam.

Baca juga: (Tanggapi Tudingan Prof Mahfud MD, Begini Reaksi PPP)

"Kita tunggulah minggu-minggu ke depan kedepan saya kira suasana akan berbeda, ketika semua sudah berjalan dengan baik pasti nanti akan adem," kata Lukman.

Terkait pernyataan Mahfud yang menyinggung pertemuannya dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Lukman membenarkan. Namun, ia menekankan tak semua yang diungkapkan Mahfud itu sesuai fakta.

"Saya kira tidak benar sebagian, sebagian memang fakta-fakta itu ada. Kronologis yang disampaikan itu benar. Tapi hal hal tertutup yang tidak diketahui oleh pak mahfud itu kan tidak bisa beliau ceritakan dan ada sebagian yang beliau tidak ceritakan yang beliau ketahui," tuturnya.

Sementara terkait Mahfud yang mengungkap adanya manuver Ma'ruf Amin untuk menjegalnya sebagai cawapres dengan mengancam akan NU akan meninggalkan Jokowi, Lukman menepis. Menurutnya, tak mungkin PBNU berpolitik.

"Nggak mungkin lah PBNU sampai politik. NU itu kan politik high politics, jadi sampai tunjuk nama itu nggak mungkin, PBNU kan sadar juga positioningnya bukan parpol, tapi kalau kemudian PBNU mengawal proses politik itu supaya tidak lari dari moralitas ke-NU-an. Saya kira peran yang dilakukan PB NU," ungkap Lukman.

Meski demikian, dengan segala polemik yang saat ini ada, Lukman tetap yakin Mahfud akan mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Namun, apakah nantinya Mahfud akan terlibat dalam tim pemenangan, Lukman enggak menerka-nerka.

"Kalau statement Pak Mahfud tadi malam, beliau tetap membantu pak Jokowi sebagai presiden. Apakah beliau terlibat dalam suksesi pak Jokowi 5 tahun ke depan? Ya kita nggak tahu, tergantung kesibukan masing-masing," kata Lukman.

"Tergantung dari kesediaan waktu beliau, kalau beliau sibuk mengajar sibuk di BPIP. Orang menteri-menteri aja tidak ada yang masuk dalam tim sukses. Menteri-menteri sibuk bekerja. Menteri-menteri kan nggak boleh masuk timses," lanjutnya.

Adapun anggota Dewan Syuro PKB Maman Immanulhaq berpendapat politik pencapresan kemarin tak mudah ditebak. Banyak pihak yang menjagokan calonnya untuk menjadi cawapres Jokowi, namun tidak terjadi.

"Pertarungan politik memang sulit dibaca," kata anggota Maman Immanulhaq kepada wartawan, Rabu (15/8/2018).

Maman mencontohkan para ketum partai yang juga gagal terpilih sebagai cawapres Jokowi. Namun, pada akhirnya parpol koalisi bisa menerima keputusan Jokowi.

"Banyak tokoh termasuk para ketua umum partai koalisi mempersiapkan diri agar digandeng Jokowi. Tapi nyatanya tak satupun ketua partai yang dipilih. Tapi semua memahami keputusan Presiden. Tidak ada yang kecewa, sedih, atau baper," ujarnya.

Meski begitu, Maman mengatakan PKB menghargai cerita blak-blakan Mahfud soal cerita di balik kegagalan menjadi cawapres Jokowi. Ia menyebut kisah itu bisa jadi sarana edukasi politik.

"Kami menghargai keterbukaan Pak Mahfud. Kami juga yakin dengan integritasnya. Itu perlu diungkap sebagai edukasi bahwa politik itu bukan sekadar figur, tapi ada realitas politik yang tidak sederhana karena menyangkut kepentingan yang lebih besar," sebut Maman.

Dia menegaskan Jokowi sendiri yang memilih KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres. Parpol koalisi sedari awal sepakat menyerahkan keputusan cawapres ke tangan Jokowi.

"Partai koalisi hanya memberi masukan yakni kriteria sosok yang bisa menaikkan elektoral Jokowi dan juga menuntaskan program Nawacita di periode kedua kepemimpinan Jokowi," jelas Maman.

Sebelumnya, Mahfud MD buka-bukaan soal detik-detik dirinya ditunjuk jadi cawapres pendamping Jokowi yang akhirnya batal. Cerita Mahfud Md begitu detail, menjadi sebuah kisah yang sangat dramatis.

Mahfud mengawali cerita dari pertama kali ia ditemui orang-orang Istana. Tak main-main, yang menemui Mahfud adalah orang terdekat Presiden Jokowi.

"Pada tanggal 1 Agustus pukul 23.00 malam, saya diundang oleh Menteri Sekretaris Negara Pak Pratikno, saya ditemui bersama Pak Teten Masduki lalu saya diberi tahu, 'Pak Mahfud, sekarang pilihan sudah mengerucut ke Bapak, Bapak harap bersiap-siap, nanti pada saatnya akan diumumkan,' oke," kata Mahfud mengungkap detik-detik dirinya diminta jadi cawapres Jokowi, dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (14/8) malam.

Baca lintasan:
Kapitra Ampera: Saya Tantang Pak Mahfud Tunjukkin HP dan SMSnya
Blokir Jalan Trans Sulawesi, Warga Protes Komentar 'Miring' di Facebook, Netizen Itu Kini Diburu Polisi

Selain soal komunikasi dirinya dengan pihak Istana, Mahfud pernah ditemui Ketum PBNU Said Aqil Siroj untuk membahas pernyataan soal dirinya yang diberi label bukan kader NU.

"Saya bilang apa juga haknya NU itu mengancam-ngancam kalau bukan kader NU, NU akan tidur. NU akan meninggalkan pemerintah. Apa betul ada begitu," kata Mahfud mengulangi pembicaraannya dengan Said Aqil.

Mahfud Md bicara soal pernyataan Ketua PBNU Robikin Emhas pada Rabu (8/8) yang menyatakan NU akan meninggalkan Jokowi bila cawapres yang dipilih bukan kader NU. Pernyataan ini disebut Mahfud memunculkan 'kegaduhan'.

"Lalu dibantah (Said Aqil), (yang bicara), nggak ada pernyataan itu. Padahal pernyataan itu ada Robikin yang menyatakan dan yang menyuruh itu Kiai Maruf amin. Bagaimana saya tahu kiai Maruf Amin? Muhaimin yang bilang ke saya. He-he-he... ini saya ceritain, menarik ini ceritanya, loh saya memang jujur sih," lanjut Mahfud.



(/dnu)

Tanggapi Tudingan Prof Mahfud MD, Begini Reaksi PPP

Mahfud Md buka-bukaan soal cerita di balik kegagalan dirinya menjadi cawapres untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi). PPP meluruskan terkait pemilihan cawapres Jokowi.

Wasekjen PPP Ahmad Baidowi mengatakan Mahfud memang menjadi salah satu nama yang dikantongi Jokowi. Namun, nama Mahfud bukanlah keputusan final.


"Yang dimaksud fixed itu adalah utusan partai politik bersama calon presiden," ujar pria yang disapa Awiek itu di Posko Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (15/8/2018).

Awiek menjelaskan, Jokowi memang memiliki keinginan membawa nama Mahfud. Namun, sosok cawapres harus ditentukan bersama dengan parpol koalisi.

Baca juga: (Kapitra Ampera: Saya Tantang Pak Mahfud Tunjukkin HP dan SMSnya)

"Pak Jokowi sebagai calon presiden sudah punya keinginan untuk membawa Pak Mahfud. Tetapi teman-teman dari partai koalisi menyatakan dan menyampaikan usulan yang berbeda. Jadi belum. Kalau dikatakan jadi sebuah keputusan, keputusannya ya waktu di Plataran, Menteng itu keputusannya, bersama Pak Jokowi dan partai koalisi," tutur Awiek.

Awiek pun mengibaratkan keputusan itu dengan sebuah pernikahan. Keputusan untuk menikah haruslah melalui persetujuan keluarga, begitupun dengan cawapres Jokowi.

"Sama seperti saya misalnya ingin menikah dengan seseorang. Itu kan klaim saya. Sementara saya belum menyampaikan kepada keluarga-keluarga saya. Saya kira hampir sama dengan itu. Pak Jokowi prioritas utama mungkin Pak Mahfud," kata Awiek.

"Benar, apa yang disampaikan tidak ada yang salah. Tetapi itu belum menjadi keputusan karena pengusungan pasangan calon itu hak prerogatifnya itu dari partai politik. Keputusannya ya di Plataran Menteng tersebut," lanjutnya.

Sebelumnya, Mahfud MD akhirnya buka-bukaan soal detik-detik dirinya ditunjuk jadi cawapres pendamping Jokowi yang akhirnya batal. Cerita Mahfud Md begitu detail, menjadi sebuah kisah yang sangat dramatis.

Baca juga: (Blokir Jalan Trans Sulawesi, Warga Protes Komentar 'Miring' di Facebook, Netizen Itu Kini Diburu Polisi)

Mahfud mengawali cerita dari pertama kali ia ditemui orang-orang Istana. Tak main-main, yang menemui Mahfud adalah orang terdekat Presiden Jokowi.

"Pada tanggal 1 Agustus pukul 23.00 malam, saya diundang oleh Menteri Sekretaris Negara Pak Pratikno, saya ditemui bersama Pak Teten Masduki lalu saya diberi tahu, 'Pak Mahfud, sekarang pilihan sudah mengerucut ke Bapak, Bapak harap bersiap-siap, nanti pada saatnya akan diumumkan,' oke," kata Mahfud mengungkap detik-detik dirinya diminta jadi cawapres Jokowi, dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (14/8) malam.


(mae/idh)

Kapitra Ampera: Saya Tantang Pak Mahfud Tunjukkin HP dan SMSnya

Bakal calon anggota legislatif (caleg) PDIP Kapitra Ampera mengklaim menjadi saksi jika Ketua Majelis Ulama (MUI) Ma'ruf Amin merekomendasikan nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menjadi calon wakil presiden Joko Widodo di pilpres 2019.

Pernyataan itu, kata Kapitra, disampaikan langsung Ma'ruf sehari sebelum Jokowi mengumumkan cawapres di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8) lalu.


"Waktu itu saya tanya Kiai Ma'ruf mau jadi cawapres tidak? Dia bilang dia sudah merekomendasikan Mahfud MD sebagai cawapres. Demi Allah saya tidak bohong soal ini," kata Kapitra kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Baca juga: (Blokir Jalan Trans Sulawesi, Warga Protes Komentar 'Miring' di Facebook, Netizen Itu Kini Diburu Polisi)

Ia juga mengklaim bahwa tidak ada ekspresi kecewa di wajah Ma'ruf saat menyampaikan Mahfud MD yang ia perjuangkan menjadi cawapres Jokowi di pilpres tahun depan.

Mendengar jawaban itu, Kapitra pun langsung mengirim pesan teks atau SMS kepada Mahfud untuk menyampaikan selamat. Kapitra mengklaim mengirim pesan ke Mahfud pada pukul 11.00 WIB siang.

"Saya tantang pak Mahfud tunjukin HP-nya, ada SMS dari saya, Rabu 8 Agustus, siang," kata Kapitra.

Untuk itu Kapitra menganggap Mahfud MD sudah khilaf karena mengira Ma'ruf Amin yang mencoba menjegalnya sebagai cawapres Jokowi. Kapitra pun mengecam langkah Mahfud yang menuding Ma'ruf menekan Jokowi lewat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"Mahfud khilaf kalau anggap Kiai Ma'ruf mau menjegalnya jadi cawapres," tutur Kapitra.

Kapitra menambahkan perbincangannya dengan Ma'ruf soal cawapres Jokowi itu terjadi saat keduanya menghadiri pengukuhan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai Guru Besar Intelijen di Sekolah Tinggi Inteliljen Negara (STIN), Bogor, Rabu (8/8). Ia mengatakan yang menjadi saksi dalam pertemuan itu adalah Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Zaitun Rasmin, mantan Wakasad Letjen Muhammad Munir, Slamet Maarif, dan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo.

Baca juga: (Said Aqil: NU Tidak Berpolitik, Tapi Punya Bobot Politis Berat Sekali, Ma'ruf Amin Harus Menang di Pilpres 2019)

Sebelumnya, Mahfud mengaku pada detik-detik terakhir pengumuman cawapres, sempat diwarnai 'ancaman' dari PBNU kepada Jokowi agar memilih cawapres dari NU. Mahfud mengatakan bahwa Ma'ruf Amin adalah orang yang menyuruh PBNU mengeluarkan ancaman tersebut.

"Robikin yang menyatakan [ancaman] dan yang menyuruh itu kiai Ma'ruf Amin. Bagaimana saya tahu kiai Ma'ruf Amin? Muhaimin yang bilang ke saya," ungkap Mahfud saat berbicara di acara Indonesian Lawyer Club yang disiarkan TV One, Selasa (14/8).

Pemilihan cawapres Jokowi memang sempat menuai kontroversi. Pasalnya, nama Mahfud yang pada detik terakhir pengumuman paling santer akan dipilih Jokowi, tiba-tiba tersingkir. Jokowi akhirnya memilih Ma'ruf sebagai cawapresnya.

Mahfud menceritakan kronologi di balik tersingkirnya dia pada detik terakhir jelang pengumuman nama cawapres. Menurut Mahfud, berdasarkan cerita dari Muhaimin, pada Rabu (8/8) atau satu hari sebelum pengumuman cawapres Jokowi, ada pertemuan di Kantor PBNU antara Kiai Ma'ruf Amin, Ketua PBNU Said Aqil Siroj, dan Ketua PKB Muhaimin Iskandar.

"Terus saya tanya gimana tuh main ancam-ancam? Itu yang nyuruh kiai Ma'ruf," kata Mahfud menirukan pengakuan Muhaimin kepada dirinya.

Di satu sisi, sebelum deklarasi capres-cawapres, baik Jokowi maupun dari tim koalisi partai tak menyebutkan lugas siapa yang bakal mendampingin Jokowi. Hanya saja dari bursa 10 nama, yang terkuat adalah sosok berinisial M. (DAL/kid)