Jokowi Buktikan Serangan Oposisi Selama Ini Terbantahkan dengan Satu Kali Gebuk, 'Kekuatan Riil Politik'

shares

Loading...
Akhir pekan calon presiden petahana Joko Widodo dihiasi dengan sindiran-sindiran tajam ke kubu penantangnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi lantas dianggap Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi bak seorang oposisi.

Serangan bertubi-tubi itu disampaikan Jokowi dalam kampanyenya pada Sabtu (2/2/2019). Jokowi berbicara saat berkampanye di Surabaya, Jawa Timur, dan Semarang, Jawa Tengah.

Saat bersilaturahmi dengan Paguyuban Pengusaha Jawa Tengah di MG Setos, Semarang, Jokowi menyebut, bila ada yang berbicara soal Indonesia bubar dan punah, jangan ajak-ajak rakyat Indonesia. Lalu, Jokowi juga menyinggung pernyataan Prabowo yang menyebut satu selang darah di RSCM dipakai 40 orang. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat berbicara mengenai optimisme dalam Deklarasi Forum Alumni Jawa Timur untuk Jokowi di Tugu Pahlawan, Jl Pahlawan, Surabaya.

Di Surabaya, Jokowi juga berbicara mengenai kasus pemukulan eks Jurkamnas Prabowo-Sandiaga, Ratna Sarumpaet yang ternyata adalah kebohongan. Dia juga menyindir elite yang menyamakan Indonesia dengan Haiti. "Jangan ada ngomong lagi nanti selang darah dipakai 40 kali. Jangan sampai ada ngomong lagi tempe setipis ATM," kata Jokowi.

Pada Minggu (3/2), Jokowi kembali 'menyerang'. Jokowi menyindir elite yang menyebutnya antek asing, padahal menurutnya yang antek asing ialah yang memakai jasa konsultan asing. Jokowi tak menyebutkan nama atau pihak yang memakai jasa konsultan asing.

"Yang dipakai konsultan asing. Nggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, nggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, membuat rakyat takut, nggak peduli. Konsultannya konsultan asing. Terus yang antek asing siapa?" kata Jokowi di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2).

Serangan-serangan Jokowi itu bikin kubu Prabowo terheran-heran. Menurut PKS, apa yang disampaikan Jokowi itu seolah-olah posisinya ada di kubu oposisi.

"Menurut kami aneh, Pak Jokowi berbicara seolah-olah dia yang oposisi, bukan penguasa. Dia lupa dia pemegang semua instrumen kekuasaan yang ada di republik ini. Yang bisa melakukan apa yang dia sebutkan itu ya pemilik kekuasaan," kata elite PKS Suhud Aliyuddin yang juga juru bicara BPN .

Jokowi: Masa Saya Diam Terus 

Jokowi punya alasan terkait pernyataan-pernyataannya itu. Jokowi mengaku tidak mau terus-terusan hanya diam. "Saya kan menyampaikan apa adanya kan, masak saya diam terus? Saya suruh diam terus, saya suruh sabar terus, nggak dong. Sekali-sekali dong," kata Jokowi menghadiri Rakornas Jenggala Center di Hotel JS Luwansa, Minggu (3/1/2019).

Jokowi pun menepis anggapan dia melakukan serangan. "Menyerang, siapa sih menyerang?" ucapnya.

Pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto menilai 'perubahan' gaya Jokowi ini tak sekadar dimaknai sebagai bentuk kepanikan atau kekhawatiran, tapi juga percaya diri alias PD.


"Saya lihat keduanya ada, kenapa? Pertama sebagai incumbent Jokowi punya self confident, mungkin memiliki kekuatan riil politik, sekarang sebagai incumbent tak salah juga kalau punya kepercayaan diri. Dibanding 2014 iya, mungkin sebagai orang yang baru masuk gelanggang saat itu gaya bicaranya berbeda dengan saat ini sebagai petahana. Apakah ada kekhawatiran? Itu juga tak salah, pada situasi elektoral saat ini belum aman-aman banget, karena kan masih ada swing voters yang jumlahnya lebih besar," kata Gun Gun.

https://news.detik.com/berita/4412927/jokowi-rasa-oposisi
Loading...
loading...