Habiburokhman: Ada Framing Seolah Kubu Prabowo-Sandi jadi Penyebar Hoaks

shares

Loading...
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga menyebut pihaknya adalah kubu yang selalu menjadi korban framing dalam isu hoaks yang berkembang di tengah masyarakat.

"Ada framing seolah kami kubu penyebar hoaks," ucap Juru Bicara Direktorat Advokasi BPN Habiburokhman dalam diskusi di KPU RI, Jakarta Pusat, Kamis (10/1/2019).

Dia menyebut hoaks menjadi sebuah alat perang baru dalam konteks psikologi di media sosial.

Bahkan, atas framing tersebut, masyarakat Indonesia turut jadi korban.

"Hoaks ini berkembang menjadi sebuah alat perang dalam konteks psikologi media sosial. Yang jelas kami selalu menjadi korban, dan juga tentu masyarakat Indonesia. Kami sering dikaitkan dengan hoaks ini, itu," imbuh dia.

Habiburokhman menjelaskan BPN seringkali dikaitkan dengan hoaks yang terjadi belakangan ini, padahal tudingan itu tidak pernah terbukti secara jelas dan meyakinkan.

Kemudian ia mengambil contoh dari kasus Saracen, dimana seorang ibu bernama Asma Dewi ditangkap pihak kepolisian karena disebut menjadi bendahara dan mentransfer uang senilai 75 juta kepada Saracen.

Padahal, lanjut Habiburokhman, tuduhan itu tidak termaktub dalam surat dakwaan.

"Tapi tuduhan tersebut bahkan mentah sebelum persidangan," katanya.

Kemudian ia melanjutkan pada kasus Ratna Sarumpaet, Habiburokhman menegaskan pihaknya tak pernah tahu muka lebam Ratna adalah hasil dari proses operasi yang ia lakukan sendiri.

Namun, banyak pihak memanfaatkan kondisi tersebut dengan menggiring opini publik dan mengaitkannya kepada BPN.

"Nyatanya kepolisian profesional, framing itu tidak terbukti, namun kami sudah dirugikan," jelas dia.

Teranyar, menanggapi informasi kurang tepat Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief soal tujuh kontainer surat suara tercoblos di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, dirinya mengklaim Andi Arief adalah korbannya.

Dia pun mempertanyakan informasi yang disebar Wasekjen PD itu apakah termasuk kejahatan atau tidak.

"Apakah kejahatan jika kita mendapat informasi seperti itu di WA grup, kemudian mempertanyakannya," tanya dia.

Atas paparannya itu, dia secara yakin menganggap bahwa kubunya adalah korban framing media yang menghakimi pihaknya sebagai penyebar hoaks.


"Jadi saya menilai ada framing untuk 'judge' kami sebagai kubu penyebar hoaks," kata Habiburokhman.

TribunNews
Loading...
loading...