Fahri Hamzah Interupsi dan Menyasar Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga, Capek Kita Dengarnya

shares

Loading...
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah tampak memberikan interupsi, saat Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Ferry Mursyidan Baldan.
Hal tersebut tampak dalam acara Indonesia Lawyers Club  (ILC) tvOne, Selasa (8/1/2019).

Saat membahas topik 'Menguji Netralitas KPU' Baldan meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak baper terkait kritikan yang dilontarkan.

"Itu membuat seolah-olah KPU tidak berdaya," ungkapnya.

Baldan kemudian menerangkan teknis debat capres.

Dia kemudian menjelaskan permasalahan terkait debat capres yang kini mendapat polemik.

Seperti keberatan-keberatan dari paslon tertentu.

Baldan sempat menceritakan pertemuannya dengan KPU terkait aturan-aturan teknis debat capres.

Hingga akhirnya penyampaian visi-misi dibatalkan.

Mendengar penjelasan panjang lebar dari Baldan, Fahri Hamzah langsung melontarkan interupsi.

"Sebentar saja, saya usul perdebatannya itu keluar dari teknis rapat dua tim ini pak, karena capek kita dengarnya."

"Kan mereka rapat terus saling menyelahkan terus, 'kan seharusnya ngomong begini, ini rahasia', bisa enggak kita keluar dari namanya starring committe, biar publik menikmati yang lebih besar gitu lho," ungkap Fahri.

Ia pun menegaskan bahwa ia capek mendengar perdebatan seperti itu.

"'Kan kita udah ngomong waktu itu, dalam rapat kan itu udah....' Nah capek kita dengarnya, karena ini bukan wilayah publik, anggap itu wilayah privat mereka, bisa enggak kita keluar dari situ," ujar Fahri.

Pembawa acara Karni Ilyas pun menjelaskan maksud Fahri "Ya maksudnya jangan teknislah."

Menanggapi interupsi dari Fahri Hamzah, Baldan mengaku tidak menyampaikan seluruh pembicaraan internal.

"Yang saya sampaikan itu adalah proses yang memang rapat itu terbuka," katanya.

Fahri pun langsung menyahut dan menerangkan kembali maksudnya.

"Ya maksud saya, rapat itu tidak usah dimongkan Pak, kita ini kan bicara filsafat demokrasi kita, hak-hak publik dalam debat, dalam kampanye, ini uang triliunan dipakai buat apa dan seterusnya."

"Basis argumen kita itu bukan rapat berdua Anda sebagai tim, kita enggak paham dan enggak peduli juga."

"Masalahnya, Anda sesuai undang-undang atau tidak, jangan membuat kesepakatan sendiri dan seolah-olah karena sudah rapat, bikin kesepakatan lalu benar begitu."

"Enggak begitu, dasar argumen kita ini publik, publik itu ya undang-undang, institusi, konsep dari negara itu, itu saya kira debatnya, karena itu melelahkan mendengarnya," ungkap Fahri Hamzah.

Omongan Fahri Hamzah lantas disahut oleh Tim TKN Jokowi Aria Bima yang mengaku sepakat dengannya.

Simak selengkapnya dalam video di bawah ini, interupsi Fahri tampak pada menit 8.15.


Diketahui, dalam acara ILC Selasa (8/1/2019), para narasumber membahas mengenai keputusan KPU yang menghilangkan waktu pemaparan visi dan misi paslon.

Tak hanya itu, mereka juga turut berdiskusi mengenai pemberian kisi-kisi pertanyaan kepada para kandidat sebelum debat.

Keputusan KPU itu sempat menuai polemik.

KPU pun memberikan penjelasan dalam acara tersebut.

Awalnya, pembawa acara ILC, Karni Ilyas menjelaskan bahwa ILC mendapat banyak usulan topik dari netizen.

Karni menjelaskan ILC akhirnya memutuskan mengambil tema mengenai isu debat pilpres 2019.

"Karena ini sangat substantif sekali, KPU menyepakati dua kubu paslon untuk prosedur dari debat 2019, kenapa kok jadinya belakangan malah ribut, enggak dari awal ributnya."

Karni mengatakan ada dua tema yang dibahas pada ILC, yakni mengenai bocornya pertanyaan debat pilpres 2019 dan agenda pemaparan visi misi yang dibatalkan.

Karni kemudian memberikan waktu pada Wahyu untuk menjelaskan soal kisi-kisi debat Pilpres 2019 yang bocor.

Wahyu menjelaskan, pihaknya tidak sepakat dengan kata 'pembocoran' pertanyaan yang beredar luas dimasyarakat mengenai pertanyaan debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tahun 2019.

"Istilah pembocoran itu konotasinya negatif, kami jujur kepada masayarakat kami punya konsep dan format, debat itu akan substansial, menarik dan mengedukasi," ujar Wahyu.

Wahyu juga menjelaskan, kesepakatan debat telah mendapat persetujuan dari Tim Kampanye (TKN) paslon nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Badan Pemenangan Nasional (BPN) nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

"Publik seolah-olah berfikir debat capres akan tidak menarik, tetapi Pemilu 2019 berbeda, akan ada empat sesi debat, jadi para panelis yang sudah kita pilih, membuat pertanyaan seusai tema, hukum, HAM, korupsi dan teroris."

"Masing-masing tema, panelis menyusun lima soal, jadi ada 20 soal untuk masing tema," ujar Wahyu.

Lanjutnya, nanti masing-masing capres akan diundi untuk mendapat satu pertanyaan, lalu sesi debat dimulai, dijawab kandidat dan kandidat yg lain boleh merespon.

Wahyu menepis bahwa debat capres nanti seperti cerdas cermat.

"Pertanyaan itu bukan seperti cerdas cermat, tapi bentuknya abstrak, jadi capres harus punya kemampuan menjelaskan kepada masyarakat," jelas Wahyu.


"Kita juga belajar dari ILC Pak Karni, hanya semangat edukasinya kita ambil. Percayalah Pak Karni, inilah yang terbaik," pungkas Wahyu.

TribunNews
Loading...
loading...