Jokowi-Prabowo Diundang Tes Baca Al-Quran, Gus Nadir: Dengan Segala Hormat, Saya Rasa Tidak Perlu

shares

Loading...
Tokoh organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU), Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menganggap tes baca Al Quran atau ngaji bagi capres dan cawapres tak perlu dilakukan.

Gus Nadir menanggapi soal rencana Dewan Ikatan Dai Aceh yang mengusulkan adanya tes baca Al Quran bagi pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Usulan Ikatan Dai Aceh untuk menggelar tes ngaji bagi Jokowi-Prabowo bertujuan mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres Pilpres 2019.

Meski begitu, Gus Nadir memiliki pandangan lain terkait rencana tes ngaji bagi Jokowi-Prabowo.

Menurut Gus Nadir, masyarakat Indonesia lebih cenderung mengharapkan pemimpin yang bisa mengadministrasikan keadilan sosial dalam programnya.

"Dengan segala hormat dan mengapresiasi niat baik penyelenggara, saya berpendapat tes baca al-Qur’an untuk Jokowi dan Prabowo tidak perlu.

Kita membutuhkan pemimpin yang mampu mengadministrasikan keadilan sosial dalam programnya" tulis akun Twitter gus Nadir @na_dirs

Gus Nadir bahkan membandingkannya dengan zaman dulu.

Menurut Gus Nadir, pada masa khilafah dulu juga mendapati adanya pemimpin yang tidak fasih dalam membaca Al Quran.

"Jangankan di Republik Indonesia, dulu pada masa Khilafah pun kita juga dapati pemimpin yg tidak fasih membaca al-Qur’an ataupun keliru menjalankan tata cara shalat.

Ini contoh fakta sejarahnya:" tulis Gus Nadir.


Gus Nadir bercerita pada 3 Maret 893 Masehi, Khalifah al-Mu’tadidh menjadi imam salat Idul Adha.

Hanya saja didapati ada sebuah kejanggalan.

Menurut Gus Nadir, saat menjadi imam salat Idul Adha, Khalifah al-Mu’tadidh melakukan takbir sebanyak enam kali di rakaat pertama.

Saat rakaat kedua, kata Gus Nadir, Khalifah al-Mu’tadidh hanya melakukan satu kali takbir.

"Pada 3 Maret 893 M, Khalifah al-Mu’tadidh jadi imam shalat Idul Adha.

Tapi ada yg aneh. Imam Thabari & Imam Suyuthi melaporkan bhw al-Mu’tadhid mengucapkan takbir 6 kali pada rakaat pertama, dan hanya sekali takbir di rakaat kedua.

Dan tidak terdengar dia menyampaikan khutbah." kata Gus Nadir.

"Khalifah al-Muqtadir mengangkat Ali bin Abi Syekhah sebagai ulama kerajaan.

Imam Suyuthi mengabarkan bagaimana saat naik khutbah, Ali menyampaikan khutbah dengan membaca teks, dan itupun dia salah membaca ayat sehingga sangat fatal perbedaan artinya." tambah Gus Nadir.

Dengan contoh tersebut, Gus Nadir berujar bahwa mestinya politisasi agama segera dihentikan..

Menurut Gus Nadir, kealiman seorang pemimpin itu dengan bertindak adil.

"Contoh masa lalu itu menyadarkan kita utk stop politisasi agama.

Kealiman pemimpin itu dg bertindak adil.

Kefasihan pemimpin itu dg menyejahterakan rakyatnya.

Tahajud pemimpin itu dg tdk bisa tidur mikirin rakyatnya yg kelaparan.

Sedekahnya pemimpin itu dg berantas korupsi," tutup Gus Nadir.

Diketahui bersama, tes ngaji Jokowi-Prabowo rencananya akan digelar di Masjid Raya BariBaiturrahman Banda Aceh pada tanggal 15 Januari 2019 mendatang

Ikatan Dai Aceh akan segera menyurasti Jokowi dan Prabowo terkait rencana tes ngaji.

Dalam waktu dekat bahkan Ikatan Dai Aceh akan segera membentuk panitia pelaksana dan tim uji kemampuan baca Al Quran.


Nantinya hasil tes membaca Alquran tidak mempengaruhi keputusan KPU/KIP.


TribunNews
Loading...
loading...