Pidatonya Bikin Gaduh Masyarakat, Peneliti LIPI Semprot Prabowo Subianto

shares

Loading...
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego meminta pasangan calon presiden dan wakil presiden mengambil pembelajaran berharga di balik kasus pidato Prabowo Subianto terkait "tampang Boyolali."

Apalagi, kini telah memasuki tahun politik yang sangat riuh menanggapi sesuatu hal, termasuk ucapan sensitif seperti "tampang Boyolali."


Meskipun konteks dari "tampang Boyolali" itu bermaksud bercanda, menurut Indria Samego, sepatutnya dihindari di tahun politik. Karena akan menjadi bumerang.

"Tahun politik, apa yang sebelumnya biasa (candaan) sekarang dianggap serius. Makanya bercandalah yang mendidik, jangan nyerempet-nyerempet SARA," Indria Samego kepada Tribunnews.com, Senin (5/11/2018).

Sehingga, Indria Samego menilai wajar, kalau kini isu "tampang Boyolali" dari Pidato Prabowo itu menjadi ramai dibahas dan dipolitisasi.

Untuk itu Indria Samego mendorong baik Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga Uno lebih mengedepankan kampanye positif bagi pembangunan.

Selain juga berkampanye adu gagasan dan ide bagi pembangunan negeri ini kedepannya. Sehingga masyarakat teredukasi dan bisa mempelajari program-program yang dijual para calon pemimpin bangsa lima tahun kedepan.

"Yang paling bagus adalah materi kampanye yang berdampak positif terhadap pembangunan," jelas Indria Samego.

Sementara itu Sekjen Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno mengatakan, pernyataan calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, tentang "Tampang Boyolali" telah dipolitisasi.

Eddy mengaku khawatir segala ucapan Prabowo akan selalu ditanggapi secara politis.

"Saya prihatin segala sesuatu yang diucapkan itu rawan untuk dipolitisir. Coba kita ber-khuznudzon, berprasangka baik atas setiap kata dan tutur yang diucapkan," ujar Eddy di GOR Soemantri, Jakarta, Minggu (4/11/2018).

Eddy menegaskan Prabowo tidak bermaksud mendiskriminasi warga Boyolali. Prabowo juga tidak bermaksud mengejek atau merendahkan mereka. Namun, pernyataan itu menjadi polemik karena ada pihak yang memolitisasi.

TribunNews
loading...