Makan Buah Langka, Lidah Hanif Wicaksono Mati Rasa

shares

Loading...
Perjalanan karir Mohamad Hanif Wicaksono berubah drastis ketika mertuanya di Kalimantan Selatan berpulang ke rahmatullah pada 2011. Dia memutuskan untuk berhenti sebagai guru SMP di Batu, Malang dan menetap di kampung halaman sang istri.

"Ketika mertua saya wafat, saya pilih menemani istri pulang ke Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan," kata Hanif saat dihubungi detik.com melalui telepon, Jumat (23/11/2018).

Di Kalimantan, Sarjana Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Muhammadiyah, Malang itu tak punya pekerjaan tetap. Status sebagai penyuluh Keluarga Berencana baru didapat pada 2014. Toh begitu, setiap akhir pekan dia punya kebiasaan rutin yakni keluar-masuk hutan.

Aktivitas itu memberikan pengalaman unik sekaligus menambah pengetahuannya, terutama soal keragaman flora khas Kalimantan. Ada banyak jenis pohon dengan buah yang baru dilihatnya di Kalimantan. Sebut saja buah Limpasu, sejenis mangga yang bentuknya kecil tapi rasanya mirip kedondong. Lalu buah Lahung, sejenis durian yang kulitnya berwarna merah.

Beruntung sebagai sarjana komunikasi, lelaki kelahiran Blitar, 18 Agustus 1983 itu supel bergaul dengan warga sekitar. Kepada mereka dia banyak bertanya ikhwal pepohonan dan buah yang baru dilihatnya. "Tapi tak banyak juga warga yang mengenali. Ini memprihatinkan sekali karena mereka tak lagi mengenal tanaman dan buah di sekitarnya," ujar Hanif.

Kenyataan itu diam-diam melecut dirinya untuk secara sadar menginventarisasi jenis pohon dan buah yang ditemukannya di hutan. Dia memfoto, mencatat, dan menggali informasi terkait melalui jaringan internet.

Sejak 2012, dia sudah menjelajah hutan di enam kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan. Ada kalanya dia ditemani tokoh masyarakat setempat tapi seringkali berjalan sendirian berjam-jam masuk ke dalam hutan. "Ada kalanya saya tersesat. Tapi untungnya kalau di Kalimantan itu patokannya ya sungai. Kalau ada sungai berarti ada perkampungan," ujarnya.

Karena sering blusukan sendirian itu pula, dia pernah mengalami mati rasa. Saat mencicipi sebuah buah yang semula rasanya asam. Tapi sekitar 2-3 jam setelah memakan buah namanya belum teridentifikasi itu, lidahnya terasa gatal. "Setelah itu saya mati rasa, gak bisa menikmati makanan apapun. Saya biarkan aja, setelah tiga hari hilang sendiri," ujar Hanif.

Total sekitar 160 pohon dan buah langka di dalam hutan Kalimantan berhasil dia identifikasi. Hal itu kemudian dia dokumentasikan dalam buku bertajuk, "Potret Buah Nusantara Masa Kini" pada November 2016. Buku setebal 200 halaman itu dia tulis bersama mentornya, Bapak Reza. Kini, dia tengah menyiapkan enam jilid draf buku bertajuk, "Buah Hutan Kalimantan Selatan" yang akan diluncurkan pada Desember tahun ini. "Sengaja saya disain supaya mudah dipahami oleh masyarakat awam, termasuk pelajar sekolah menengah," ujar Hanif.

Tak cuma itu. Dia berupaya menularkan passion dan pengetahuannya itu kepada warga sekitar dengan membuar Program Tunas Meratus. Progam ini fokus mengumpulkan, mendokumentasikan, membibitkan, dan membudidayakan tanaman buah asli Kalimantan. Selain itu juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian sumber daya plasma nutfah Kalimantan.


Atas dedikasinya tersebut, Hanif mendapatkan penghargaan "Satu Indonesia Award" 2018 dari Astra. Hari ini, dia akan berbicara dalam diskusi bertajuk, "Pohon Langka Melawan Punah" di Perpustakaan Nasional, pukul 13.00 - 16.00. Akan turut berbicara dalam rangka memperingati Hari Pohon Sedunia itu adalah Prof Tukirin Partomihardjo dari LIPI dan Iyan Robiansyah dari IPB.

Detik
Loading...
loading...