Jokowi: Hentikan Berpolitik Layaknya Genderuwo yang Menakut-nakuti Rakyat

shares

Loading...
Presiden Joko Widodo menegaskan agar politisi menghentikan berpolitik layaknya genderuwo yang menakut-nakuti rakyat.

Sebab, di tahun politik saat ini diharapkan politik yang penuh dengan kegembiraan. "Pesta demokrasi mestinya penuh dengan kegembiraan, penuh dengan kesenangan," kata Presiden kepada wartawan usai meresmikan tol di Kabupaten Tegal, Jumat (9/11).


Apalagi, masyarakat kini sudah sangat matang dalam berpolitik, memberikan suara dengan memilih secara jernih dan rasional.

Sehingga, politikus harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik. Bukan dengan cara-cara berpolitik dengan propaganda yang menakut-nakuti, menimbulkan kekhawatiran, ketidakpastian, dan keragu-raguan masyarakat.

"Ini cara-cara berpolitik yang tidak beretika seperti ini jangan diterus-teruskan. Setop, setop!" tambah Presiden.

Tapi sayangnya, dirinya enggan membocorkan untuk siapa sindiran itu ia tujukan. "Enggak, saya sampaikan itu politikus genderuwo, ya dicari saja politikusnya," tegas dia.

Tapi secara prinsip, Jokowi kembali menegaskan agar para politikus hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan.

Sekadar tahu saja, istilah politikus genderuwo itu disebutkan Jokowi saat membagikan 3.000 sertifikat tanah. "(Politikus yang tidak pakai etika politik yang baik. Tidak pakai sopan santun politik yang baik. Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran," katanya di GOR Tri Sanja, Kabupaten Tegal, Jumat pagi (9/11).

Tak hanya itu, setelah ditakut-takuti politikus itu kerap membuat sebuah ketidakpastian dan menggiring masyarakat yang tidak benar serta ragu-ragu.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya politik gerenduwa (genderuwo), nakut-nakuti," tambah Presiden.

"Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda ketakutan. Berbahaya sekali," lanjut dia.

Sehingga, ia menilai jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan. Apalagi, ia menilai aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, persaudaraan, kerukunan.

"Jangan sampai rugi besar kita ini, karena pas setiap lima tahun itu ada pilihan bupati, gubernur, wali kota ada terus. Jangan sampai (pecah) seperti itu," katanya.

TribunNews
loading...