Dilaporkan JAPRI Terkait Orasi di Aksi Bela Tauhid, Fahira Idris Meradang

shares

Loading...
Senator asal DKI Jakarta Fahira Idris dilaporkan ke Bawaslu karena diduga mempolitisir Aksi Bela Tauhid 2 November 2018. Fahira menepis tuduhan itu dan mengatakan akan mempolisikan pelapornya.

"Bukan kampanye ya, saya kan orasi, saya sebagai umat Islam ya, umat Islam yang merasa bahwa bendera itu bukan bendera HTI kan. Jadi saya hanya orasi dan orasi saya itu semua tertulis di Twitter saya dan di IG saya. Jadi itu tidak saya kurangi tidak saya tambahkan, saya tahu pasti akan ada orang-orang yang berusaha mempelesetkan kan. Makanya script itu saya langsung script hari itu juga sepulang dari orasi. Jadi nanti tolong dicek aja," kata Fahira saat dihubungi, Selasa (6/11/2018).


"Itu tidak ada sama sekali kampanye Prabowo. Nggak ada menyebut Prabowo-Sandi, nggak ada. Bukan salah aja, fitnah," tegas dia.

Pelapor Fahira ke Bawaslu, yaitu Jaringan Advokat Pengawal NKRI (JAPRI), menyebut Fahira melibatkan seorang dai cilik saat disebut mempolitisir aksi tersebut. Fahira menegaskan itu semua fitnah.

"Dia memfitnah saya begini, bahkan bilang saya, dia menduga bahwa saya telah mengkondisikan seorang dai cilik untuk orasi di hadapan massa. Yang lucunya gini, pertama, kenal aja nggak sama dia (dai cilik), namanya juga nggak tahu. Terus kemudian yang orasi dia duluan, saya sama Mbak Neno kan belakangan. Jadi saya nggak tahu dia orasi apa. Mana mungkin saya mengkondisikan, kenal aja nggak. Saya cuma mengucapkan pada saat dia orasi, 'waduh nih anak kecil calon dai juga nih', saya hanya bilang gitu," beber Fahira.

Fahira tak habis pikir dengan tuduhan tersebut. Dia menegaskan akan menyeret pelapornya ke ranah hukum.

"Terus pas turun juga saya cuma salaman, segala macem, gitu. Itu kan artinya fitnah dong. kok bisa sih jaringan advokat RI memfitnah saya. Nanti saya akan ini, menuntut mereka balik dengan adanya fitnah ini, saya akan tuntut mereka ke polisi," sebut Fahira.

Dia menyebut semua tuduhan yang dilayangkan JAPRI bukan hanya salah, tetapi fitnah. Pelaporan JAPRI ke polisi, Fahira melanjutkan, kemungkinan dilakukan besok.

"Ini karena bukan hanya salah beritanya, ini fitnah. Ini terlalu aneh sekali menurut saya. Kalau misalnya mau menuding itu yang wajar-wajar aja dong, kok malah fitnah jatuhnya. Dia bilang saya mengkondisikan. Lah, ngobrol aja nggak, kenal aja nggak, orasi aja dia duluan, nggak pernah ketemu, namanya juga saya nggak tahu. Kok bisa? Jadi menurut saya ini sudah fitnah besar untuk saya dan ini kurang bagus karena kan saya lagi nyaleg. Masak orang lagi nyaleg difitnah-fitnah, kan nggak bener tuh. Itu nanti besok saya akan laporkan ke polisi," bebernya.

Via WhatsApp, Fahira mengirimkan transkrip pidatonya di Aksi Bela Tauhid. Berikut transkrip orasi yang dikirim Fahira:

Assalamualaikum.wr.wb.

Saudara-saudara, kita semua berkumpul disini bukan untuk memperkeruh suasana. Betul????

Kita berkumpul disini bukan untuk memanasi suasana. Betul????

Kita disini untuk menyejukkan suasana. Menyalurkan aspirasi sesuai sesuai koridor hukum dan undang-undang.

Aksi ini Aksi Damai. Betul????

Aksi ini Bukan Aksi Kebencian

Aksi ini bentuk Silaturahim

Aksi ini adalah pengingat dan peringatan bahwa Bendara Tauhid adalah Bendera Umat Islam. Bukan milik salah satu organisasi apalagi HTI.

Bendara Tauhid adalah milik Umat Islam di Seluruh Dunia.

Jangan lagi ada pembenaran bahwa bendara Tauhid adalah Bendara HTI.

Aksi ini untuk menyadarkan pihak-pihak yang menyatakan bahwa bendara Tauhid adalah bendara makar, bendara radikal, bendara yang mengancam NKRI. Kerena itu semua Hoaks. Itu semua bohong. Bendera Tauhid adalah Bendara Kedamaian. Bendera Rahmatan Lil Alamin.

Bendera ini adalah bendera yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan pasukannya memasuki Kota Makkah dengan Damai.

Bendera ini adalah Simbol Ukhuwah Umat.

Yang menyatukan kita umat Islam adalah kalimat Tauhid yang tertulis di bendera yang kita kibarkan saat ini.

Kenapa harus Alergi??? Kenapa Harus ditakuti?

Saudara-saudara semua. Sebagai sesama umat muslim, sebagai sesama bangsa Indonesia, kita wajib memaafkan saudara-saudara kita yang telah membakar kalimat Tauhid.

Doakan mereka bertobat dan diberikan hidayah serta kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan itu telah melukai hati umat Islam.

Dengan alasan apapun membakar bendera yang bertuliskan tauhid tidak dibenarkan karena tidak hanya punya potensi melanggar hukum, tetapi juga dapat menjadi pemicu konflik di tengah masyarakat. Oleh karena itu, hukum harus hadir untuk menyelesaikan persoalan ini.

Saudara-saudara semua, peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid ini, harus menjadi momentum bagi umat Islam untuk memberi pencerahan kepada masyarakat luas bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera umat Islam bukan milik ormas tertentu.

Saat ini ada penggiringan opini luar biasa yang sengaja meniupkan keyakinan agar masyarakat luas gagal paham sehingga menyakini bahwa bendera berlafaz tauhid adalah bendera milik salah satu ormas.

Opini ini harus kita luruskan. Ke depan tidak boleh ada ada lagi yang melakukan sweeping, perampasan, apalagi pembakaran bendera tauhid.

Detik
loading...